Oleh Galang Taufani

DEMOKRASI merupakan puncak pencapaian ilmu, ideologi, dan wisdom hasil karya manusia abad ke-20, ke-21. Kini, dia, demokrasi, adalah sesuatu yang paling terkenal saat ini. Bukan lain, menjadi sebuah ‘kiblat’ dalam urusan hidup para manusia dalam berbangsa dan bernegara. Hampir seluruh proses mencari kesepakatan di dunia ini menggunakan demokrasi.
Semua orang menjunjug demokrasi. Semua orang merasa salah, bodoh, dan dekaden jika tidak membenarkan demokrasi. Lha, sekarang tidak akan pernah ada pendapat dalam seminar, perdebatan dalam talk show, seminar, dan sebagainya kalau negara kita tidak mengenal demokrasi. Pokok dan serba pokoknya, sekarang, adalah demokrasi.
Dagelan Demokrasi Kampus
Dalam dunia kampus pun sama, tiada beda. Kondisi kampus semakin mutakhir. Kampus ikut mengadopsi model-model demokrasi kekinian yang dilakukan dalam skala nasional, salah satu output-nya adalah Pemira (Pemilihan Raya).
Meskipun pemira hanya dalam ruang lingkup kampus, hajatan ini tidak bisa dibilang jauh berbeda dengan pesta pemilu berskala nasional. Pentas pemilu ala kampus ini tetap melahirkan dinamika politik yang tak kalah seru. Bahkan, saya pernah nguping, jika intrik dan politiknya tak boleh semena-mena di remehkan. Tak dipungkiri, deal-deal dan lobby politik pihak yang berkepentingan juga kerap muncul menjadi sajian-sajian manis dalam komposisi perpolitikan kampus.
Semua orang akan dibikin riuh dengan proses yang terjadi. Kadang bisa membuat marah, emosi, jengkel, sebaliknya, nyengir, atau bahkan dibuat tertawa cekikikan dengan dagelan ini.
Mungkin karena itulah sebagian orang menyebut kampus sebagai “miniatur negara”. Kampus merepresentasikan pluralitas dari seantero Indonesia kata orang-orang. Tidak hanya itu, coba saja kita tengok model berorganisasi, lembaga-lembaga, dan jabatan-jabatan struktural yang ada seolah tidak beda amat dengan tingkat negara. Meskipun begitu, saya terhitung orang menyebut kampus sebagai negara saja, tapi lebih dari itu, negara kecamatan. Lha, luas kampus kan paling hanya seluas satu kecamatan.
Kembali ke pesta demokrasi kampus. Dalam kampanye lisan para calon. Selalau muncul suguhan atmosfir dialog para calon yang menarik. Masing-masing calon diwarnai berjenis-jenis nuansa, latar belakang, kecenderungan budaya, fanatisme golongan, pandangan kebatinan, juga berbagai wawasan yang resmi maupun serabutan.
Meskipun begitu, toh saya tidak ambil pusing. Bagi saya, masih ada hal tetap membuat tersenyum lebar, semuanya memiliki kesamaan : perhatian yang mendalam kepada sosok pemimimpin. Kira saya, kepedulian itu adalah hal yang masih patut untuk tetap di apresiasi.
Pertunjukan ini tidak berhenti disitu. Wilayah demokrasi kampus ternyata menyajikan forum-forum yang mengajak nyerocos untuk berdialektika dan berinteraksi wawasan mengenai siapa yang layak, yang baiknya, yang mestinya, dan yang cocok menjadi ketua dan wakilnya. Semua pihak membuka buku-buku dikepalanya masing-masing. Tujuannya untuk menemukan yang paling ‘emas’ dari berbagi kemungkinan yang berada di pucuk pimpinan.
Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
Berbicara pemimpin memang tidak gampang. Dalam sabda Nabi, mengatakan, bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang dipimpin. Kata-kata itu begitu cespleng mengena dihati. Siapa sangka, memimpin itu bakal dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Urusan akhirat, tentu bukan hal biasa dan mudah. Hal itu sudah pasti urusan manusia dengan penciptanya. Jika manusia bersalah, Tuhan tidak bisa diajak bernegosiasi, apalagi disuap. Tanpa tedheng aling-aling, Ia akan memasukkan siapa yang bersalah—menurut catatan amal—kedalam neraka.
Begitu juga dengan memilih, bukan kendala yang mudah. Secara pribadi, ada sebuah pertanggungjawaban moral yang setidaknya melandasi sikap kita. Sehingga, tentu kita tak seharusnya sak enak udele dewe dalam memilih. Adakalanya, kita perlu untuk berfikir secara jernih mengenai siapakah sosok yang tepat dan pantas.
Contoh yang paling gampang, sewaktu kecil dahulu, seringkali orang tua selalu menceritakan sosok-sosok pemimpin dalam simbolisasi tokoh pewayangan. Ada Bima, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk, raksasa Kumbkarno, dsb.
Semua itu adalah figur yang baik. Bima jujur gagah perkasa. Arjuna sakti pendiam. Gareng filosof guru bangsa. Limbuk pengabdi yang setia, namun kritis. Kumbukarno raksasa pembela dan pecinta tanah air.
Sekali lagi, itu hanya contoh. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda dalam setiap hal. Itu pula kenapa Tuhan menganugerahkan akal, supaya kita mau berfikir.
Karena itulah, kiranya tidak salah jika kita mau memikirkan pula kata Ronggowarsito mengenai parameter kualitas pemimpin : Satrio Pinandhito SinisihanWahyu.
Sekalipun pemilihan ini sekaliber lingkungan kampus, tiada perbedaan. Sudah seharusnya muncul sosok berpengaruh dalam lingkungan kecil. Jika dalam lingkungan kecil pemimpinnya baik, barang tentu kita tidak perlu meragukan lingkup yang lebih besar.
Ronggowarsito mengungkapkan yang dimaksud dengan pemimpin sejati itu adalah yang memiliki tiga sayarat berkualitas. Ia harus Satrio : cakap, ulet, pejuang, menguasai multimasalah, manajer, dan panglima solusi.
Tetapi, juga harus sekaligus lebih tinggi dari itu, Pinandhito : tak terpesona oleh harta dan kedudukan, filosofi hidupnya matang, arif, adil dalam kehidupan nyata, spiritually grounded, berkadar pemimpin rohani, kaliber “Begawan” atau “ Panembahan”.
Itu belum cukup. Ia harus sinisihan wahyu. Harus tampak indikator bahwa Tuhan turut aktif dalam kemenangannya, terlibat mempengaruhi aspirasi konstituen. Artinya, memang ini adalah bentuk penafsiran bahwa tidak mungkin pilihan Tuhan akan bisa dikalahkan.
Kemenangan Adalah Kebenaran
Akhirnya, semua berujung pada hari akhir. Hari ditiupnya sangkakala. Pertanda bahwa hari dimulainya sebuah pengumpulan suara. Demokrasi dalam bentuk voting secara masal dilaksanakan. Sekaligus inilah bukti siapakah nantinya yang bakal melenggang di kursi Eksekutif dan legislatif ala kampus, negara kecamatan.
Ada yang menang, ada yang kalah. Semua adalah hal biasa. Mengenai tetek-bengek ikhwal hitung-hitung warna apa yang kawin sama warna apa, warna mana yang tepatnya berkoalisi dengan warna apa. Itu bukan kerepotan lagi. Tak ada masalah, siapa yang akan bergabung untuk berkuasa dan siapa saja yang berkumpul untuk mengimbangi kekuasaan dengan kontrol.
Itu semua nomor dua, karena yang utama adalah bagaimana masyarakat kampus bisa menjadi lakon utama dalam demokrasi. Masyarakat bisa belajar, tentang sebuah proses berdemokrasi. Sehingga, nanti akan memiliki pemahaman wawasan yang matang.
Dan, last but not least, demokrasi kampus adalah keniscayaan. Layaknya andheng-andheng (baca: tai lalat), pemira adalah penanda yang mencolok sebuah implementasi demokrasi ala kampus sekarang. Selepas hajatan ini, sudah saatnya semua kembali menjalankan amanah baru yang diemban. Ingat, Gusti Allah mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur.